
“Jujur saja...” Itulah kata ‘ampuh’ yang akhir-akhir ini cukup laris baik bagi kalangan artis, selebritis, pejabat, maupun para politikus. Ada apa dengan kata “jujur saja...” ? Bukankah kita wajib jujur? Benar.
But, kalau kita kritis kebiasaan lip service ini bertentangan dengan pesan kenabian, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena kejujuran akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke jannah. Barangsiapa yang selalu berlaku jujur maka ia akan dikenal (mendapat stempel) sebagai orang jujur.”
Bahasa menunjukkan bangsa, cara berbahasa menunjukkan integritas seseorang.
Saudaraku, kita tidak perlu tidak perlu latah, ikut-ikutan arus yang terus menggerus. Untuk dikenal sebagai orang jujur, kita tak perlu mengklaim diri dengan mengatakan “jujur saja...” Sebab, kejujuran adalah merk yang melekat pada diri seseorang tanpa harus melakukan klaim sepihak. Justru ketika engkau menyaksikan orang yang mengatakan betapa jujurnya dia, kata Dana Telford penulis Keunggulan Integritas, kita mesti hati-hati dan waspada, bisa jadi dia sedang berbohong. Wah... bahaya!
Berkaitan dengan bisnis, masalah kejujuran dan trust (kepercayaan) kata Yulianto Wibowo Kusumo, Ketua REI saat Seminar Wirausaha bersama penulis di USB Solo (19 Mei 09), adalah soal referensi. Kalau kita sudah kehilangan kepercayaan dan tidak direferensikan, habislah karir bisnis kita. Mau kemana lagi? Kejujuran adalah mata uang internasional yang berlaku universal di manapun kita berada.
Lalu mengapa orang cenderung berdusta? Karena ia ingin mencitrakan diri lebih hebat dari kenyataannya, takut kehilangan, rakus terhadap jabatan, menjilat atasan, mengelabui bawahan, dll.
Kita bebas memilih antara jujur atau dusta. Kitalah yang membentuk integritas moral kita, bukan orang lain. Seseorang mungkin bisa selamat sesaat dengan kedustaannya, tapi tidak akan selamanya. Yakini dan buktikan sendiri.
Renungkan: “Kita tak bisa menyuruh orang lain berolahraga untuk kita, agar kita sehat.” Allahu a’lam. (pakshol)






0 komentar:
Posting Komentar