Kamis, 27 Agustus 2009

Yang Miskin Membayar Yang Kaya Dibayar, Aneh Kan?



Pernah lihat antrian BLT? Kasihan ya negeri kita yang katanya kaya raya nyatanya rakyatnya miskin-miskin sampai antri untuk mendapatkan BLT. Anda sedih? Tentu, masih mending ini orang miskin dapat jatah BLT meski kita patut bertanya dari mana uang tersebut? Jangan-jangan uang rakyat yang dijarah para konglomerat dan pejabat yang korup tak sebanding dengan yang dibagi-bagikan lewat BLT. Atau malah rakyat kecil nggak berpikir, “Yang penting dapet duit, nggak peduli dari mana asalnya!”

Nah... Nah... Nah inilah masalahnya. Nampaknya rakyat enak kan dapat uang gratisan lewat BLT dan konco-konconya, dapat hadiah tabungan yang milyaran misal, dapat lotere atawa undian macem-macem. Tapi benarkah itu semua gratis? Ini yang mau saya ungkap, tapi dengan syarat Anda jangan sedih dan jangan marah, setuju? Kalau setuju, Lanjutkan! (Ssst ini sudah nggak jaman kampanye lho)

Begini sodara-sodara, perlu diketahui bukankah sesungguhnya rakyat kecil itulah yang membayar orang-orang besar, orang kaya, pejabat. Coba renungkan sambil nyeruput wedang jahe yang semriwing atau wedang kopi yang puahhiit lupa dikasih gula karena memang sudah habis meski pabrik gula ada di Mojo maupun Tasikmadu.
Jangan sedih, Rakyat kecil nabung di bank rakyat dari uang recehan, para konglomerat denga mudah mengeruk “modal” dari bank tersebut sehingga bangkrut dan bang Samingun hanya bisa manyun. Soalnya mau amprah sak juta rong juta syaratnya ngadubillah beda dengan pejabat yang mau ambil milyaran uangnya malah diantar ke rumah, iya ‘kan?
Jangan sedih. Rakyat kecil dari SMA atawa sarjana kalau mau kerja harus bayar ke pejabat yang berwenang. Orang miskin, mau kerja disuruh mbayar ke pajabat yang sudah duduk di kursi empuk sambil manthuk-manthuk karena kekayaan bisa terus ia keruk. Halal haram? Wow sudah banyak nggak peduli men. Wong dulu mau jadi pejabat juga mbayar. Mau naik pangkat juga mesti setor pada atasan biar dapat tanda tangan. Nah!
Jangan sedih. Waktu pemilu rakyat kecil dipyuri duit dari mana-mana. Yang paling banyak ngasih yang dipilih katanya. Rakyat dibayar paling pol satus ewu agar rakyat bisa MEMBAYAR WAKIL RAKYAT jutaan bahkan milyaran dengan mengeruk APBD atau APBN. Tapi rakyat kok nggak KAPOK ya. Makanya jangan sedih, nggak usah demo-demo sama wakil rakyat. Memang sebatas itu wakil rakyatmu. Paling nanti kalau sudah mau Pemilu rakyat ya lupa lagi-lupa lagi. Iya ‘kan?

Jangan sedih, kalau ternyata mamang rakyat kecil, orang miskin yang membayar para konglomerat. Cobalihat, siapa yang “paling rajin”membeli rokok? Seorang tukang becak cerita minimal satu bungkus sehari. Kalau sebungkus 7ribu bukankah sebulan sudah habis 210 ribu. Wah bis buat nyicil arisan motor dong? Sebentar, siapa yang paling diuntungkan? Konglomerat pabrik rokok dan pejabat bea cukai. Lho kan petani tembakau dan pekerja pabrik juga untung? Tapi berapa sih. Jelas rakyat kecil selalu dalam kerugian. Maka bangkitlah. Lakukan perlawanan!
Melawan siapa? Ya melawan kebiasaan buruk diri sendiri yang suka mendzholimi diri sendiri, merusak tubuh dengan minuman keras atau rokok yangbikin awet muda (alias nggak sempat tua, keburu mati) atau kalau sempat tua penuh penderitaan dengan paru-paru keropos.
Kita harus melawan? Melawan siapa lagi. Melawan kebodohan diri yang tak mau belajar dan berbenah. Tak punya skill sehingga jadi obyek penderita teruus. Seperti para TKW Hongkong yang dikorupsi oleh para pejabat KBRI atau disunat lagi saat pulang sebagai “pahlawan devisa”. Menurut cerita Mas Fauzil Adhim yang barusaja pulang dari Hongkong, para majikan di sana demo besar-besar kepada KBRI agar bayar TKI-TKW diberikan sepenuhnnya jangan disunat dan jangan dikorup. Sebab ada yang sampai 7-9 sembilan nggak dibayarkan. Nah, siapa yang membela TKW-TKI? Ternyata para majikan. Mereka berdemo ke KBRI di Hongkong.Aneh ya?
Kita harus terus melawan? Melawan koruptor. Siapa koruptor? Sikap korup pada diri. Bayar zakat dikorup nggak ngakui hasil rezeki dengan benar. Bayar pegawai dikorup nggak disampaikan utuh. Datang sering terlambat sama saja korupsi waktu. Fasilitas kantor disikat untuk perkaya diri, astaghfirullah. Jatah teman disikat tak peduli nasib sesama. Datang sholat terlambat plus males-malesan korupsi ibadah pada Tuhan nggak membandingkan dengan begitu besar karunia yang dilimpahkan. Korupsi sama pasangan, mengurangi cinta untuk diberikan pada selingkuhan, na’udzubillah. Sawah tetangga dikorup dengan menipiskan galengan. Ngerek panen pun dikorup dengan tidak nggepyok padi dengan sungguhan untuk diberikan tadahan pada teman yang diajak kolusi dan korupsi seperti memalsu anggaran.
Nah, belajarlah ketrampilan sekecil apapun. Maksudnya milikilah ketrampilan untuk mendidik diri sendiri agar lebih bermanfaat. Jadi rakyat ora ngrusaki ora ngebomi, jadi pejabat ora korupsi. Jadi tentara ora ngamuk nembaki. Lebih baik untuk meng EKSEKUSI pelaku korupsi.Eit jangan-jangan penduduknya habis, tinggal sedikit karena kebanyakan suka korupsi. Allahu a’lam.
Ramadhan sebentar lagi... Selamat bersiap-siap memasuki BULAN SUCI. Mari bersihkan Negeri dari KORUPSI. Bersihkan Akhlak Diri dari Kebiasaan Korupsi. Allahumma baariklana fi Rojaba wa sya’ban wa ballighnaa Ramadhan.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

ZERO to HERO TRAINING. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com